Lingkaran Setan Daya Beli, Malnutrisi dan  Stunting



Jumat, 25 Maret 2022 - 09:38:02 WIB



Oleh : Dr. Noviardi Ferzi*

 

 

 

Bukan hanya kestabilan harga, pemerintah juga perlu memperhatikan daya beli masyarakat. Selama ini ada kesan kestabilan harga menjadi satu-satunya yang menentukan keterjangkauan masyarakat terhadap komoditas pangan. Namun, dalam situasi pandemi ini perlu diperhatikan daya beli warga yang menurun, ini penting karena mempengaruhi keterjangkauan pangan oleh masyarakat.

Bicara indikator ekonomi, inflasinya dinilai sebagai keberhasilan mengendalikan harga, meski inflasi yang rendah juga menunjukkan penurunan penurunan daya beli masyarakat.

Dalam hal ini Inflasi dapat dimaknai like dua sisi yang berbeda dari mata uang yang sama. Pertama, inflasi rendah bisa dimaknai sebagai keberhasilan pemerintah dan BI dalam menjaga harga. Namun, Kedua, inflasi rendah juga dapat terjadi akibat penurunan daya beli masyarakat karena kondisi perekonomian yang belum benar-benar pulih.

Dalam penurunan, penurunan daya beli karena harga barang naik, sehingga nilai uang semakin berkurang. Ketika inflasi tinggi, biasanya tidak banyak konsumsi yang dilakukan, pilihan logistiknya masyarakat akan berhemat.

Selain itu daya beli yang rendah juga dipengaruhi oleh deflasi, berupa penurunan harga. Ketika harga suatu komoditas turun menandakan permintaan yang rendah, masyarakat tidak mampu membeli. Pada pemahaman kita dalam tahu, penurunan daya beli bisa disebabkan inflasi dan deflasi. Harga tinggi atau inflasi membuat barang-barang terbeli, akhirnya akan memicu deflasi, titik dimana ada penurunan harga setelah inflasi karena daya beli masyarakat yang melemah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional pada Februari 2022 turun 0,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan indeks harga grosir itu terjadi pada sektor pertanian sebesar 1,14 persen.

Penyebab utama dari (penurunan) IHPB ini adalah terkait dengan telur ayam ras, ayam rasnya sendiri juga mengalami penurunan harga, cabe rawit dan kubis atau kol juga turun.

Indeks daging tersebut deflasi pada jangka waktu yang sama menunjukkan jumlah komoditas seperti ayam, daging sapi, bawang putih, bawang merah, dan cabai merah.

Melihat kondisi pasar, deflasi harga pangan disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat di awal tahun dan jelang bulan Ramadhan 2022.

Pemulihan masa Pandemi masih mempengaruhi aktivitas dan ekonomi dan berdampak pada pendapatan yang merupakan sumber daya beli masyarakat.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempengaruhi konsumsi nutrisi. Masyarakat cenderung memilih makanan yang mengenyangkan dengan harga yang lebih murah, tapi kenyang belum tentu mencukupi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Jadi, hati - hati, penurunan daya beli bisa membuat masyarakat kurang gizi.

Masalah malnutrisi ini, berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2021, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 24,4 persen atau 5,33 juta Balita. Padahal, Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkualitas merupakan syarat untuk membawa Indonesia Maju pada tahun 2045. Namun, penyiapan SDM unggul menghadapi tantangan bernama "stunting".

Sesungguhnya, prevalensi stunting ini telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang terjadi pada tahun ketiga ini membuat Balita yang mengalami gizi buruk dan kemungkinan stunting meningkat. Sehingga, upaya mendasar dalam menekan angka kurang gizi ini harus dimulai pada perbaikan ekonomi yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Menjadi lingkaran setan antara daya beli, malnutrisi dan stunting.

 

 

* Pengamat



Artikel Rekomendasi